Kamis, 19 Mei 2011

Tidak memiliki uang banyak, dilarang sakit

Orangtua Fardan Hanya Bisa Pasrah

Tidak memiliki uang banyak, maka dilarang sakit, inilah ungkapan yang kerap kita dengar, sebagai protes publik akan mahalnya layanan kesehatan di republik ini. Muhammad Fardan (1) misalnya, balita yang seharusnya masih lucu-lucunya ini harus tergolek lemah karena penyakitnya yang tak kunjung sembuh.

Fardan adalah putra dari pasangan Tazili (36) dan Suprihatin (31), warga Desa Margototo Dusun 4 RT 14 RW 07 Kecamatan Metro Kibang Lampung Timur. Balita malang tersebut divonis menderita penyakit Ikterus dengan Hapatomega.

"Penyakit kuning dg disertai pembesaran liver," ujar Kepala Puskesmas Metro Kibang dr. Tri Haryani. Malangnya lagi Fardan harus segera diobati atau dioperasi di Rumah Sakit besar yang memiliki peralatan yang canggih seperti RS Cipto Mangunkusumo di Jakarta, atau RS Karyadi di Semarang.

Ayah Fardan, Tazili mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi putra tercintanya tersebut. "Penghasilan saya tidak akan cukup mengobati Fardan, saya hanya pedagang kakao, sementara istri saya hanya ibu rumah tangga biasa," ungkapnya.

Tazili sendiri sangat mengharapkan adanya uluran tangan dari dermawan yang tergugah dengan nasib Fardan. "Mudah-mudahan ada dermawan yg peduli dg nasib anak kami" tuturnya. Selain itu, ia juga berharap ada perhatian dari pemerintah guna penyembuhan putra ketiganya tersebut. 

Untuk diketahui, kondisi Fardan saat ini terbilang memprihatinkan, dengan perut yang membesar keras, dan sekujur badan berwarna kuning, bahkan bola mata balita mungil inipun berwarna kuning. Gejala sakit yang diderita bocah tersebut, sebenarnya mulai tampak sejak ia berusia 1 bulan 13 hari. 

"Tubuhnya lemas dan badannya mulai berwarna kuning," jelasnya. Menurut Tazili, anaknya hingga saat ini baru menerima asupan ASI dari sang ibu. 

"Kalau diberikan makanan tambahan, anak saya pasti muntah," ungkapnya. Ia menambahkan, untuk ukuran balita seusia Fardan, seharusnya sudah mulai merangkak, atau belajar berdiri, namun hal ini tidak terlihat pada puteranya. 

"Dia sangat lemah, tidak bisa beraktivitas layaknya balita seusianya, hanya bisa terbaring saja," tuturnya. Keterbatasan biaya membuat orangtua Fardan saat ini lebih memilih berobat ke pengobatan alternatif di Bandar Lampung ketimbang pengobatan medis di RS. 

"Sebab biaya RS untuk penyakit anak saya sangatlah mahal bisa mencapai ratusan juta rupiah," ujar Tazili. Menurutnya, hingga saat ini keluarganya belum mendapatkan bantuan dari pihak manapun. Ia mengatakan, pihak keluarga telah berulang kali membawa Fardan ke RS di Bandar Lampung. 


"Seperti RSUD Abdoel Moeloek, RS Advent, dan RS Graha Husada," tuturnya. Namun, pihak RS tersebut menyarankan agar keluarga membawa Fardan ke RS yang lebih besar, dan memiliki peralatan medis yang lebih lengkap dan canggih. "Dinas Kesehatan Lampung Timur memang membantu, namun hanya berupa pemberian Jamkesmasda untuk berobat di RSUDAM," ungkapnya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar