Sabtu, 14 Mei 2011

Sebuah Cerita Pertemuan Antara Gajah Liar dan Manusia

Dugul, Si Liar yang Sopan

Barangkali pernah muncul dalam benak kita, gajah mana yang paling besar di di Taman Nasional Way Kambas. Tidak pernah ada jawaban pasti soal itu, namun paling tidak gajah liar bernama Dugul menjadi gajah paling besar yang pernah ditemui atau dilihat warga. 

"Tingginya lebih dari tiga meter," ujar Ahmad Rokhani, salah satu staf konservasi di TNWK. Menurutnya, Dugul adalah gajah liar yang kerap masuk ke peladangan warga, dan berusia sekitar 30 tahun. 

"Kalau yang lebih besar dari Dugul, kami belum pernah melihatnya, mungkin ada di dalam taman nasional, hanya tidak pernah ke luar," ungkapnya. Meski tergolong gajah liar, Dugul tidaklah seperti gajah-gajah liar lainnya yang ketika masuk ke peladangan warga maka akan merusak tanaman. 

"Tidak demikian dengan Dugul, ia adalah gajah yang sopan, dan santai, dan sepertinya sudah akrab dengan manusia," tuturnya. Menurutnya, ketika Dugul masuk ke peladangan warga, gajah tersebut tidak akan menginjak-injak tanaman, namun justru menghindari kerusakan. 

"Kalau warga datang mengusir gajah-gajah liar yang masuk ke peladangan, sementara gajah lain berlari, Dugul justru santai saja berjalan," ungkap Ahmad. Nama Dugul sendiri merupakan nama pemberian dari warga yang ada di sekitar TNWK. 

"Tidak tahu mengapa dinamakan Dugul, mungkin karena kebiasaannya ke luar kawasan, kalau kita berdiri di bawahnya, mungkin hanya di kolongnya saja," tuturnya. Mudah bagi masyarakat untuk mengidentifikasi Dugul, yakni berbadan besar, tidak memiliki gading, namun berjeniskelamin jantan. Padahal, pada umumnya gajah jantan selalu memiliki gading yang panjang. 

Pertemuan antara gajah liar dengan warga memang bukanlah hal baru di daerah sekitar taman nasional. 
Mengapa para gajah liar kerap memasuki peladangan warga, ada beberapa kemungkinan. "Gajah bila ia menemukan tempat makanan yang enak, maka ia pasti akan kembali mencobanya lagi," ujar Mahfud Handoko, salah satu pawang gajah senior di TNWK. 

Ia menuturkan, sama halnya dengan manusia, apabila merasakan makanan yang enak di suatu tempat, maka ada kecenderungan untuk kembali ke tempat tersebut. "Mungkin saja gajah yang masuk ke peladangan warga tersebut pernah menemukan makanan yang enak di sana," jelasnya. 

Kemungkinan lain, adalah tempat pemukiman atau peladangan warga tersebut dahulunya adalah hutan, di mana si gajah liar tersebut ada di sana ketika masih kecil. "Sehingga ia masih merasa bahwa daerah tersebut adalah home ring, atau daerah jelajahnya dalam mencari makan," ungkapnya. Karena menurutnya, gajah merupakan hewan yang memiliki ingatan sangat kuat terhadap sesuatu. 

Ia mengakui, konflik antara gajah dengan manusia memang menjadi problema hampir semua taman nasional di Sumatera yang ada gajah. "Bicara mengenai konflik gajah dengan manusia, ibarat kita diminta untuk menjawab duluan ke luar mana telur atau ayam," katanya. 

Meski demikian, pihak taman nasional telah mengupayakan antisipasi agar gajah tidak masuk ke pemukiman atau peladangan warga. "Kita membuat kanal-kanal yang membatasi antara kawasan taman nasional dan peladangan warga," tutur Mahfud. Paling tidak, ini akan meminimalisir jelajah gajah supaya tidak masuk ke peladangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar