Kamis, 19 Mei 2011

Potret Murung Sekolah Swasta

"Kami sebenarnya tidak ikhlas jika sekolah ini sampai ditutup"

Di saat banyak sekolah riuh rendah dengan aktivitas ratusan siswanya, tidak demikian bagi SMA dan SMP Ganesa Kota Metro. Sekolah swasta ini nampak muram, semakin tergerus oleh ketatnya persaingan lembaga pendidikan di Bumi Sai Wawai. 

Sekolah yang pernah berjaya di era 1980 an ini kini berjalan terseok di kota yang dikenal dengan visi pendidikannya ini. Pemerintah Kota Metro nampaknya memiliki pekerjaan rumah untuk meningkatkan pembinaan terhadap sekolah-sekolah swasta. 

Banyaknya sekolah negeri, dan munculnya sekolah terbuka kian membuat sekolah swasta terpuruk dan terancam ditutup. SMA dan SMP Ganesa sendiri terancam ditutup oleh pengurus sekolah tersebut karena tidak sanggup lagi menghadapi persaingan dan jumlah siswa yang semakin sedikit. 

"Kami sudah berusaha lima tahun dalam kondisi yang prihatin," kisah Pengurus Perguruan Ganesa Kota Metro Bambang Cakrabuana, ketika ditemui di SMA Ganesa. Menurutnya, terpuruknya sekolahnya diperparah dengan munculnya sekolah-sekolah terbuka. 

"Ada beberapa SMPN yang menyelenggarakan sekolah terbuka, jadi double shift, yakni sekolah pagi dan siang," tuturnya. Ini kemudian membuat animo siswa untuk masuk ke sekolahnya menjadi turun drastis. 

"Tahun lalu saja ada 13 siswa kita yang pindah ke sekolah terbuka tersebut," ungkap Bambang. Padahal ia mengaku pihaknya telah berupaya maksimal untuk menjaring siswa untuk masuk ke sekolahnya, bahkan pihaknya memberikan keringanan biaya. 

Menurut Bambang, kendala keuangan selama lima tahun terakhir membuat SMP dan SMA Ganesa yang mulai dirintis sejak 1975 tersebut tahun ini terancam ditutup. "Bayangkan saja, jumlah siswa SMA Ganesa kelas I dan II hanya 25 orang, sementara gurunya berjumlah 16 orang terdiri dari guru PNS yang diperbantukan dan honor," ungkapnya. 

Sementara SMP Ganesa memiliki jumlah siswa sebanyak 110 orang dengan sembilan guru PNS yang diperbantukan dan delapan guru honor.Kepada Pemkot Metro, ia mengharapkan perhatian yang lebih kepada sekolah swasta. Menurutnya, dengan sekolah-sekolah negeri yang menyelenggarakan sekolah terbuka, maka mengancam keberadaan sekolah swasta yang ada di kota ini.

"Jika kita datang ke sekolah-sekolah swasta lain, persoalannya masih tidak jauh berbeda," tuturnya. Menurutnya, banyak sekolah swasta yang kekurangan murid karena persaingan yang semakin ketat, apalagi kondisi Kota Metro yang wilayahnya tidak luas, hanya lima kecamatan. 

Kegetiran yang sama juga dialami oleh para wali murid yang kebanyakan menginginkan sekolah ini tetap dipertahankan. Menurut Bambang, pihaknya baru saja bertemu dengan sekitar 100 wali murid SMA/SMP Ganesa. 

"Kami tidak bisa berjanji, namun kepada wali murid, kami pun mengungkapkan jika memang ada wacana soal penutupan," jelasnya. Bambang menegaskan kalaupun sekolah ini ditutup, pihaknya tidak akan lepas dari tanggungjawab. 

"Kami masih bertanggungjawab penuh sampai paling tidak Juni 2011," ungkapnya. Kalau penutupan ini terjadi, pihaknya akan bekerjasama dengan sekolah lain untuk memindahkan para siswa ke sekolah tersebut. "Sudah ada sekolah-sekolah yang bersedia menampung para siswa kami kalau memang terjadi penutupan," imbuhnya. 

Menurutnya, Pengurus Perguruan Ganesa akan juga terlebih dulu melakukan sharing dengan Dinas Pendidikan Kota Metro. "Kami sendiri sebenarnya tidak ikhlas jika sekolah ini sampai ditutup," tuturnya. 

Tidak memiliki uang banyak, dilarang sakit

Orangtua Fardan Hanya Bisa Pasrah

Tidak memiliki uang banyak, maka dilarang sakit, inilah ungkapan yang kerap kita dengar, sebagai protes publik akan mahalnya layanan kesehatan di republik ini. Muhammad Fardan (1) misalnya, balita yang seharusnya masih lucu-lucunya ini harus tergolek lemah karena penyakitnya yang tak kunjung sembuh.

Fardan adalah putra dari pasangan Tazili (36) dan Suprihatin (31), warga Desa Margototo Dusun 4 RT 14 RW 07 Kecamatan Metro Kibang Lampung Timur. Balita malang tersebut divonis menderita penyakit Ikterus dengan Hapatomega.

"Penyakit kuning dg disertai pembesaran liver," ujar Kepala Puskesmas Metro Kibang dr. Tri Haryani. Malangnya lagi Fardan harus segera diobati atau dioperasi di Rumah Sakit besar yang memiliki peralatan yang canggih seperti RS Cipto Mangunkusumo di Jakarta, atau RS Karyadi di Semarang.

Ayah Fardan, Tazili mengaku hanya bisa pasrah dengan kondisi putra tercintanya tersebut. "Penghasilan saya tidak akan cukup mengobati Fardan, saya hanya pedagang kakao, sementara istri saya hanya ibu rumah tangga biasa," ungkapnya.

Tazili sendiri sangat mengharapkan adanya uluran tangan dari dermawan yang tergugah dengan nasib Fardan. "Mudah-mudahan ada dermawan yg peduli dg nasib anak kami" tuturnya. Selain itu, ia juga berharap ada perhatian dari pemerintah guna penyembuhan putra ketiganya tersebut. 

Untuk diketahui, kondisi Fardan saat ini terbilang memprihatinkan, dengan perut yang membesar keras, dan sekujur badan berwarna kuning, bahkan bola mata balita mungil inipun berwarna kuning. Gejala sakit yang diderita bocah tersebut, sebenarnya mulai tampak sejak ia berusia 1 bulan 13 hari. 

"Tubuhnya lemas dan badannya mulai berwarna kuning," jelasnya. Menurut Tazili, anaknya hingga saat ini baru menerima asupan ASI dari sang ibu. 

"Kalau diberikan makanan tambahan, anak saya pasti muntah," ungkapnya. Ia menambahkan, untuk ukuran balita seusia Fardan, seharusnya sudah mulai merangkak, atau belajar berdiri, namun hal ini tidak terlihat pada puteranya. 

"Dia sangat lemah, tidak bisa beraktivitas layaknya balita seusianya, hanya bisa terbaring saja," tuturnya. Keterbatasan biaya membuat orangtua Fardan saat ini lebih memilih berobat ke pengobatan alternatif di Bandar Lampung ketimbang pengobatan medis di RS. 

"Sebab biaya RS untuk penyakit anak saya sangatlah mahal bisa mencapai ratusan juta rupiah," ujar Tazili. Menurutnya, hingga saat ini keluarganya belum mendapatkan bantuan dari pihak manapun. Ia mengatakan, pihak keluarga telah berulang kali membawa Fardan ke RS di Bandar Lampung. 


"Seperti RSUD Abdoel Moeloek, RS Advent, dan RS Graha Husada," tuturnya. Namun, pihak RS tersebut menyarankan agar keluarga membawa Fardan ke RS yang lebih besar, dan memiliki peralatan medis yang lebih lengkap dan canggih. "Dinas Kesehatan Lampung Timur memang membantu, namun hanya berupa pemberian Jamkesmasda untuk berobat di RSUDAM," ungkapnya. 

Sabtu, 14 Mei 2011

Sebuah Cerita Pertemuan Antara Gajah Liar dan Manusia

Dugul, Si Liar yang Sopan

Barangkali pernah muncul dalam benak kita, gajah mana yang paling besar di di Taman Nasional Way Kambas. Tidak pernah ada jawaban pasti soal itu, namun paling tidak gajah liar bernama Dugul menjadi gajah paling besar yang pernah ditemui atau dilihat warga. 

"Tingginya lebih dari tiga meter," ujar Ahmad Rokhani, salah satu staf konservasi di TNWK. Menurutnya, Dugul adalah gajah liar yang kerap masuk ke peladangan warga, dan berusia sekitar 30 tahun. 

"Kalau yang lebih besar dari Dugul, kami belum pernah melihatnya, mungkin ada di dalam taman nasional, hanya tidak pernah ke luar," ungkapnya. Meski tergolong gajah liar, Dugul tidaklah seperti gajah-gajah liar lainnya yang ketika masuk ke peladangan warga maka akan merusak tanaman. 

"Tidak demikian dengan Dugul, ia adalah gajah yang sopan, dan santai, dan sepertinya sudah akrab dengan manusia," tuturnya. Menurutnya, ketika Dugul masuk ke peladangan warga, gajah tersebut tidak akan menginjak-injak tanaman, namun justru menghindari kerusakan. 

"Kalau warga datang mengusir gajah-gajah liar yang masuk ke peladangan, sementara gajah lain berlari, Dugul justru santai saja berjalan," ungkap Ahmad. Nama Dugul sendiri merupakan nama pemberian dari warga yang ada di sekitar TNWK. 

"Tidak tahu mengapa dinamakan Dugul, mungkin karena kebiasaannya ke luar kawasan, kalau kita berdiri di bawahnya, mungkin hanya di kolongnya saja," tuturnya. Mudah bagi masyarakat untuk mengidentifikasi Dugul, yakni berbadan besar, tidak memiliki gading, namun berjeniskelamin jantan. Padahal, pada umumnya gajah jantan selalu memiliki gading yang panjang. 

Pertemuan antara gajah liar dengan warga memang bukanlah hal baru di daerah sekitar taman nasional. 
Mengapa para gajah liar kerap memasuki peladangan warga, ada beberapa kemungkinan. "Gajah bila ia menemukan tempat makanan yang enak, maka ia pasti akan kembali mencobanya lagi," ujar Mahfud Handoko, salah satu pawang gajah senior di TNWK. 

Ia menuturkan, sama halnya dengan manusia, apabila merasakan makanan yang enak di suatu tempat, maka ada kecenderungan untuk kembali ke tempat tersebut. "Mungkin saja gajah yang masuk ke peladangan warga tersebut pernah menemukan makanan yang enak di sana," jelasnya. 

Kemungkinan lain, adalah tempat pemukiman atau peladangan warga tersebut dahulunya adalah hutan, di mana si gajah liar tersebut ada di sana ketika masih kecil. "Sehingga ia masih merasa bahwa daerah tersebut adalah home ring, atau daerah jelajahnya dalam mencari makan," ungkapnya. Karena menurutnya, gajah merupakan hewan yang memiliki ingatan sangat kuat terhadap sesuatu. 

Ia mengakui, konflik antara gajah dengan manusia memang menjadi problema hampir semua taman nasional di Sumatera yang ada gajah. "Bicara mengenai konflik gajah dengan manusia, ibarat kita diminta untuk menjawab duluan ke luar mana telur atau ayam," katanya. 

Meski demikian, pihak taman nasional telah mengupayakan antisipasi agar gajah tidak masuk ke pemukiman atau peladangan warga. "Kita membuat kanal-kanal yang membatasi antara kawasan taman nasional dan peladangan warga," tutur Mahfud. Paling tidak, ini akan meminimalisir jelajah gajah supaya tidak masuk ke peladangan.